Kamis, 27 Mei 2010

purnama


purnama
kali ini masih tetang purnama
namun..;hanya tentang purnama
coba lihat dia.?
dia begitu angkuh
sekaligus anggun bukan..?
sepertinya malam ini dia ingin membuktikan
indahnya begitu dirindukan..;



sudut sepi ruang ini ( 28 mei )

Rabu, 26 Mei 2010

purnama malam ini



malam ini aku berbicara lagi tentang purnama
kau lihat purnama
ia berbisik mesra bukan..?
coba apa yang ia katakan..?
karena tadi sore aku titipkan suatu kata padanya
...satu kata mesra
yang tentunya untukmu
malam ini ku ingin kau tatap purnama itu
seperti aku yang sedang menatapnya disini..;

Selasa, 25 Mei 2010

hai


kutanyakan cinta itu seperti apa
seperti pelangikah apa seperti jinggga d senja
atau diantara keduanya..
warna bungkam saat ku tanya
esok akan ku tanyakan lagi pada embun
...akankah ia bersua atau hanya bungkam
sebelum datang hari esok
akan kutanyakan apa cinta itu pada mu
saat ini...;

Senin, 24 Mei 2010

untukmu


tak ada kata untuk mu
tak ada janji untuk mu
tak ada apapun untuk mu
selain..
isyarat ini
isyarat untuk ungkapkan semua kata
ungkapkan semua
hanya itu
karena aku tak mampu untuk berkata-kata
dihadapmu
aku beku,aku kaku,bila menatap indah bening
mata mu..

Senin, 17 Mei 2010

dinda

Dinda,
tak ada yang melebihi kesejukan embun, yang serupa pelangi jatuh di bilah sinarnya

selain
merdumu di setiap pagi yang menelusup melalui angin di dengarku.

Bulan separuh..




Di malamku
bulan baru separuh
dia telanjang
ingin perlihatkan indahnya
namun malu

Di malamku
bulan itu walau separuh
tersenyum, manis
binarnya yang redup
kecup reranting rapuh itu

Di malamku
kurindu ia sempurna
purnama
sehari besok, terlalu lama
kuinigin sekarang

Di malammu
telah purnamakah ia?
andai telah, kabari aku

kita nikmati indahnya bersama
aku;
kamu;
reranting rapuh itu;
dan langitnya......

dan


Dan
sepanjang jalan ini kita melangkah
apa kau
pernah merasa lelah
atau
jenuh dengan ini

" Dinda, walau belum terpikirpun andai kau merasa cukup dan butuh jeda, bicaralah, aku tak kan memaksa kau untuk terus dampingiku. "


lihatlah
bukankah bentang ini masih panjang

entah berapa tapakmu terluka
entah berapa jejakmu tertinggal
olehku

namun, pahamilah
aku akan selalu di sampingmu
sampai kita tuntaskan jalan ini
bersama.....

Dalam siang redup

Dalam siang
redup

mentari sayu
tertutup mendung

hari kelabu
tak berwarna

putih menghampar
berselimut gumpal awan

Di mana nanti kusimpan selembar lukisku
akan senja
sedang altar petang tertutup dukamu

Di mana kugoreskan sebait sajak akanmu
sedang jingga tak mungkin datang bertandang

Di mana kau kujumpa
sedang langit menangkup mesra

Senja menegurku;

Kemana lukisan yang biasa kau sematkan pada kusam dinding di tiap petang saat aku menjelang

Kemana untai kata mu yang biasa ku jumpa di tepi semburat jinggaku

Atau kau jenuh selalu lukiskan tentangku, mungkin juga laut katamu susut hingga kau tak mampu menangguk walau sebait

hening;

" Menikmati tegura...nmu dengan memandang indahmu buatku lupa kalau kau telah hadir. "
Seperti kehidupan
seperti yang hidup

seperti membaca
seperti buku yang di tulis

seperti waktu
seperti detak yang merambat

seperti bumi
seperti langit
seperti semesta
seperti jagat raya

semua pasti berakhir
semua berujung
semua bermuara
pada satu
ketiadaan....

jangan pernah

Jangan pernah rindukan adaku
karena aku tak pantas kau rindui

Jangan pernah mengucap cinta di hadapku
karena ucapmu tak akan buai ku

Jangan pernah coba titipkan hati sebilah sekalipun
karena tak ada lagi tempat di sini untuk menyisipkannya

Dan jangan terbersit dipikirmu untuk memilikiku utuh
karena aku seutuhnya adalah hanya milikNya....

hanya dia

Hanya dia
yang mampu membuatku garang serupa bara

Hanya dia
yang mampu melemahkanku serupa tulang tak bersendi

Dan
hanya dia yang mampu gerakan mesin pikirku hingga tercipta sulaman kata-kata tak henti

Lalu
saat dia diam, terpeluk rindu yang di nanti, aku kaku serupa arca dalam kaca.